NGAWI, resensi.co.id – Ribuan Banser Kabupaten Ngawi diinstruksikan untuk mengawal kelancaran mudik lebaran. Pengurus Banser Ngawi memilah menjadi empat zona untuk didirikan posko kesiagaan, yaitu zona Timur untuk wilayah karangjati dan sekitar. Berikutnya zona tengah terpusat di Masjid Lintang Songo, Zona Selatan Jogorogo sebagai posko utama dan zona barat berada di Karang Banyu Kecamatan Widodaren.
Seperti aktifitas yang terlihat posko mudik Banser di pelataran masjid NU Lintang Songo misalnya, dua unit tenda sarnavil tanpa atribut mencolok menjadi pusat aktifitas dan penjagaan. Beberapa orang anggota Banser menunggu giliran penjagaan yang dibagi dalam tiga kelompok waktu, yaitu pagi siang dan malam.
Tidak hanya tahun ini, pada tahun sebelumnya posko Banser selalu mewarnai rute para pemudik, seperti cerita anggota PAC Kedunggar, Parlan (53 ) bersama rekanya Ashari ( 50 ) kepada resensi.co.id, ( 19/3/2026).
Bagi Parlan, menjaga posko mudik adalah sebagai bentuk loyalitas dari seorang banser. Loyalitas dari dua kaoimat janji KH Hasyim Asyari yaitu barang siapa yang ikut mengurusi NU maka ia adalah santrinya, dan janji berikutnya adalah bilamana dirinya dan keluarganya meninggal dengan husnul khotimah.
“Dawuh ( perkataan ) Kyai itu menjadi keyakinan saya untuk terus berperan, salah satunya sebagai anggota Banser,” kata Parlan yang menjadi banser sejak 1995.
“Jadi ini masalah personal, lillahita’ala untuk menjadi anggota Banser, terutama mengawal kyai dan NKRI, menjaga posko juga bagian dari itu” ujar Parlan dan Ashari yang sudah 8 jam lebih menjaga posko.
“Jadi tidak ada bayar membayar, bukan bayaran yang kami cari,” timpal Ashari.
Keberadaan posko kelompok masyarakat ini bagi pemudik cukup membantu ketenagan perjalanan, terutama pemudik yang menggubakan sepeda motor.
Seorang pemudik Surabaya yang hendak ke Semarang bernama Handi mengaku jalur mudik akan lebih aman jika banyak posko, terutama dijalur sepi pemukiman.
“Enak kalau banyak posko warga, rasanya bisa nyaman karena banyak teman, kalau capek bisa numpang istirahat,” kata Handi yang sudah lima kali mudik ke Semarang menggunakan sepeda motor di posko Banser Lintang Songo.
A.M.Mustofa










