Beranda / Ngawi / Harga Plastik Selangit Akibat Perang, Sejumlah Pelaku Usaha di Ngawi Menjerit

Harga Plastik Selangit Akibat Perang, Sejumlah Pelaku Usaha di Ngawi Menjerit

NGAWI, resensi.co.id – Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak terhadap kenaikan bahan baku plastik. Beberapa pelaku usaha yang menggunakan kantong plastik mulai menerapkan pola pengemasan bahkan penjualan.

Seperti pengakuan pengusaha  beras kemasan 5 kg bernama Aji Putu warga desa Gempol Kecamatan Karangjati misalnya, sejak seminggu yang lalu atau tiga hari setelah lebaran, Aji menghentikan produksi kemasan beras 5 kg dan beralih kedalam karung  25 Kg di penggilingan padimiliknya.

“Sejak adanya perang di Timur Tengah, dan harga plastik naik hingga 70 persen,  terpaksa saya menghentikan kemasan 5 kg karena nilai produksinya membengkak, sedangkan harga beras sudah dipatok oleh pemerintah, satu satunya jalan saya menjual dalam kemasan karungan,” ungkap Aji yang sudah memiliki hak merek kemasan beras ini, ( 6/4/2026).

“Padahal dari kemasan 5 kg saya bisa menjual hingga 2 ton perminggunya, kini sambil menunggu hargaa plasrik turun saya merubah pola penjualan,” pungkasnya.

Sementara itu bagi pedagang plastik, kenaikan harga ini mulai dirasakan sekitar dua pekan menjelang Lebaran. Sejumlah jenis plastik, terutama kantong dan plastik pembungkus, mengalami lonjakan harga cukup tajam.

Ambar, salah satu pedagang plastik di Ngawi, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi sejak tingkat produsen. Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung pada harga jual di tingkat konsumen.

“Kenaikannya bertahap sejak konflik di kawasan Teluk memanas. Sudah lebih dari dua pekan ini harga terus naik,” ujarnya saat ditemui di tokonya di wilayah Kota Ngawi.

Menurut Ambar, lonjakan harga terjadi cukup cepat. Jika sebelumnya harga plastik berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram, kini telah menembus Rp50 ribu per kilogram.

“Sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp50 ribu. Kenaikannya cukup tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan paling mencolok terjadi pada plastik kantong dan plastik pembungkus. Sementara itu, produk plastik lain seperti cup dan boks juga mengalami kenaikan, namun tidak terlalu signifikan.

“Yang paling terasa kenaikannya plastik kantong dan pembungkus. Kalau cup dan boks naik, tapi tidak terlalu besar,” ujarnya.

Kenaikan harga ini diduga dipicu terbatasnya pasokan bahan baku bijih plastik di tingkat pabrik. Selain itu, mekanisme distribusi juga berubah. Jika sebelumnya pembelian bisa dilakukan dengan sistem tempo, kini banyak produsen menerapkan sistem pre-order.

“Harga kemungkinan masih bisa naik. Sekarang di tingkat eceran, per pack (seperempat kilogram) sudah mencapai Rp17 ribu,” tambahnya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada perilaku konsumen. Ambar mengaku banyak pelanggan mulai mengurangi pembelian akibat harga yang semakin tinggi.

Hal serupa diungkapkan Khoiri Badriyah, pemilik warung kelontong di Desa Beran, Kecamatan Ngawi. Ia mengaku kini lebih selektif dalam memberikan plastik kepada pembeli.

“Sekarang hanya pembelian tertentu yang saya beri plastik. Selebihnya, saya sarankan bawa kantong sendiri dari rumah,” ujarnya.

A.M.Mustofa

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *