MAGETAN — Berawal dari kecintaannya pada motif batik ecoprint, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Tawang Anom, Magetan, Jawa Timur, sukses mengembangkan kerajinan ecoprint berbahan kulit sapi. Berkat ketelatenannya, produk yang dihasilkan tak hanya dipasarkan di Magetan dan luar pulau, tetapi juga menembus pasar luar negeri.
Perajin bernama Tarni ini awalnya hanya mengagumi motif ecoprint yang umumnya diaplikasikan pada kain. Namun, ia mencoba berinovasi dengan menerapkan teknik tersebut pada media kulit sapi. Hasilnya, lahirlah produk kerajinan unik dan bernilai jual tinggi.
Dalam proses pembuatannya, kulit sapi diolah terlebih dahulu sebelum dicetak menggunakan dedaunan alami untuk menghasilkan motif khas ecoprint. Proses ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran agar warna dan pola tercetak sempurna.
Bersama suaminya, Tarni mengembangkan berbagai produk mulai dari tas, dompet, hingga jaket berbahan kulit ecoprint. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp1 juta per item, tergantung model dan tingkat kesulitan.
Pemasaran dilakukan secara daring maupun melalui galeri miliknya di Magetan. Produk ecoprint kulit sapi buatannya bahkan telah dikirim ke sejumlah negara seperti Hong Kong, Malaysia, Turki, New York, hingga Prancis. Permintaan biasanya meningkat saat Ramadan dan menjelang Lebaran.
Shasta Ariani, salah satu pembeli, mengaku tertarik karena produk tersebut unik dan berbeda dari kerajinan pada umumnya.
“Selain awet dan khas, modelnya juga unik. Cocok dipakai saat Lebaran nanti,” ujarnya.
Sementara itu, Tarni menuturkan bahwa usaha ini tidak hanya berangkat dari hobi membatik dan kecintaannya pada ecoprint, tetapi juga menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Dalam sebulan, ia mengaku mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah.
Kisah Tarni menjadi bukti bahwa inovasi dan ketekunan mampu mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus memperluas pasar UMKM Magetan hingga mancanegara.










