Beranda / Ngawi / Masjid Unik di Ngawi Berhiaskan 15 Ribu Batu Akik dan Bertopang Tiang Peninggalan Wali Songo

Masjid Unik di Ngawi Berhiaskan 15 Ribu Batu Akik dan Bertopang Tiang Peninggalan Wali Songo

Ngawi, resensi.co.id- Sebuah masjid unik berada di kabupaten Ngawi karena berhias 15 ribu batu akik didalamnya. Meskipun masjid yang berada di desa Gerih, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi ini nampak belum rampung pembangunanya, namun setelah didekati lebih kedalam banyak hal menakjubkan yang akan terlihat.

Tiang-tiang penyangganya berupa bongkahan batu alam raksasa yang kasar dan berdiri utuh tanpa polesan semen, ternyata membawa  kesejukan, tenang, dan adem.

Masjid Miftahul Huda Al Hajar namanya, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Batu Akik berdiri berdampingan dengan Pondok Pesantren Miftahul Huda ini menyimpan kisah luar biasa di balik material bangunannya.

Pengasuh Ponpes Miftahul Huda, Sofyan Yusuf, menceritakan bahwa masjid ini mulai dibangun pada tahun 2009 oleh sang ayah, KH Ali Syamsudin. Struktur utamanya ditopang oleh 43 tiang batu alam yang didatangkan dari Pacitan dengan berat masing-masing mencapai 5 hingga 10 ton.

“Batu-batuan ini ditemukan saat proyek pengerukan gunung untuk pembangunan PLTU di Pacitan. Uniknya, batu-batu ini sudah ditemukan dalam bentuk tiang-tiang panjang seperti ini,” ujar Sofyan Yusuf, Kamis (5/3/2026).

Sofyan mengisahkan, sebelum masjid dibangun, KH Ali Syamsudin sempat mendapatkan isyarah akan adanya “masjid warisan Wali Songo”. Kabar mengenai penemuan batu-batu unik di Pacitan itu kemudian sampai ke telinga sang kiai melalui seorang alumni santri.

Konon, batu-batu tersebut berkaitan dengan rencana pembangunan “Masjid Tiban” oleh Wali Songo di Pacitan yang urung berdiri. Dari puluhan tiang tersebut, satu di antaranya diyakini sangat istimewa karena dipercaya sebagai peninggalan Sunan Kalijaga. Pada permukaannya, terdapat cekungan yang diyakini merupakan bekas telapak tangan sang Sunan.

Keunikan masjid ini tidak berhenti pada strukturnya. Di area pengimaman, dindingnya dihiasi oleh sekitar 15.000 butir batu akik yang telah dipoles mengkilap, menciptakan tampilan yang memukau bagi siapa pun yang memandangnya.

Tak hanya itu, di area jemaah perempuan, terdapat sebuah batu akik raksasa jenis “Hati Ayam” berwarna merah mencolok dengan perkiraan berat mencapai 8 ton. Selain batuan, interior masjid juga ditopang oleh empat tiang kayu jati utuh yang dibiarkan alami menyerupai pohon aslinya.

Meski sarat dengan material berharga dan nilai sejarah, Sofyan menegaskan bahwa perawatan masjid ini dilakukan secara sederhana. “Perawatan ya biasa saja, dibersihkan seperti masjid umumnya. Tidak ada ritual khusus,” pungkasnya.

Kini, Masjid Miftahul Huda Al Hajar tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi para santri dan warga sekitar, tetapi juga menjadi kunjungan wisata religi bagi wisatawan luar daerah yang penasaran ingin melihat langsung kemegahan masjid yang dihiasi kemilau batuan akik. ( AM. Mustofa )

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *