Ngawi – Kebijakan pemerintah menetapkan harga gabah kering panen (GKP) minimal Rp6.500 per kilogram dinilai menguntungkan petani dari sisi harga jual. Namun, di balik kenaikan tersebut, biaya produksi pertanian justru ikut terdongkrak, terutama pada sektor tenaga kerja.
Di Kabupaten Ngawi, yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani, kenaikan harga gabah berdampak langsung pada melonjaknya ongkos tenaga kerja pertanian. Kenaikan terjadi hampir di seluruh tahapan produksi, mulai dari pengolahan lahan hingga masa panen.
Tenaga kerja pertanian di Ngawi mencakup buruh cangkul, ndaut atau pencabutan bibit padi, penyiangan gulma (matun), buruh tanam, hingga tenaga panen. Seluruh sektor tersebut kini mengalami penyesuaian tarif.
Sudarmi (60), petani asal Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, mengatakan biaya tenaga kerja pertanian dalam beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan signifikan.
“Saat ini upah tenaga cangkul Rp100 ribu per hari, padahal sebelumnya hanya Rp80 ribu. Biaya tanam per hektare juga naik menjadi Rp1,5 juta dari sebelumnya sekitar Rp1,1 juta,” ujar Sudarmi kepada Beritasatu.com, Selasa (10/2/2026).
Ia menambahkan, kenaikan juga terjadi pada biaya penyiangan gulma atau matun. Saat ini, upah matun setengah hari mencapai Rp50 ribu, naik dari sebelumnya Rp30 ribu.
“Biaya ndaut atau cabut bibit padi sekarang borongan Rp750 ribu, sebelumnya Rp550 ribu. Termasuk biaya bajak sawah yang naik dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,5 juta per hektare,” jelasnya.
Meski demikian, Sudarmi mengakui besaran biaya tenaga kerja tidak seragam di seluruh wilayah Ngawi. Perbedaan tarif masih dipengaruhi kondisi desa dan ketersediaan tenaga kerja. Namun, tren kenaikan dinilainya terjadi hampir merata.
“Biaya memang berbeda-beda tiap desa, tapi secara umum naik semua. Seiring harga gabah naik, biaya tenaga kerja pertanian juga ikut naik,” katanya.
Menurut Sudarmi, kenaikan harga gabah memang meningkatkan nilai hasil panen. Namun, di sisi lain, lonjakan biaya produksi membuat keuntungan petani tidak sepenuhnya bertambah signifikan.
“Hasil panen memang lebih mahal, tapi sebagian besar kembali lagi untuk biaya produksi sawah,” tandasnya.










